19Jul10

hari ini aku belajar tentang tendensiku untuk merasa tertekan apabila tidak mendapat kesempatan untuk menyelami kesendirianku. aku jadi sulit membayangkan akan jadi seperti apa hidupku kelak. dapatkah aku sembuh dari tendensi ini? mungkinkah aku berkeluarga dengan lancar tanpa serangan kecemasan? kupikir suatu waktu kelak aku perlu mengkonsultasikan ini pada seorang ahli. tapi tiap aku mulai akan melangkah menemuinya, aku mendadak lupa: bagaimana rasanya ketertekanan ini? dan bagaimana mungkin aku dapat mengalaminya? kupikir aku sudah sembuh, tapi ternyata bibit tendensi itu masih bersembunyi dalam alam bawah sadarku. meski mungkin justru itulah nafas utama labirin makna yang begitu kucintai ini.


19Jul10

pulpenku berganti lagi. pada gilirannya kelak, aku akan meninggalkan yang lama dan telah bertuliskan nama. carilah debucahaya di jaringan maya, kamu akan menemukannya.

bacaanku juga sudah berganti, dan aku lega telah melalui gulungan kenangan tentang orang-orang di masalaluku itu. seseorang berkata, sudahlah, itu masalalumu, tinggalkan saja. toh secara fisik kamu sudah meninggalkannya.

ya. dan aku masih enggan menyalakan ponsel dan membuat hidupku diikuti orang-orang yang terlalu percaya diri hingga merasa boleh menguak hidupku tanpa perlu banyak berusaha. kurasa aku belum siap membuka diri pada orang-orang baru, kecuali dengan sedikit saja. apalagi terikat, lagi-lagi kecuali dengan sedikit saja.

kusadari masih ada banyak sekali tendensi dalam diriku yang belum kuketahui dan kupahami. mungkin aku cenderung merasa nyaman pada orang yang tidak terlalu banyak bertanya dan berbicara. bertanya tentang yang pribadi, berbicara tentang yang dikiranya hanya diketahuinya. biarkan semuanya terungkap seiring berjalannya waktu.

kurasa, tidak perlu terburu-buru. aku juga tidak suka terburu-buru. aku suka menunggu tanpa terikat waktu, dengan bekal aktivitas untuk mengisi penantianku. mungkin ini mengapa aku menarik diri dari banyak hal yang menyita waktu kelanaku, lagi-lagi. mungkin mereka terlalu terburu-buru. atau justru terlalu statis hingga aku jenuh. dan tiba-tiba ajakan demi ajakan datang dengan serba mendadak. kurasa aku terlalu egois untuk menyamakan lajuku dengan laju mereka. mungkin ini bukan lagi tentang kerinduan akan teladan yang nyata. ini lebih tentang perbedaan tautan konsistensi.


19Jul10

aku masih membaca buku yang membuatku seperti menerima surat-surat dari orang-orang di masa laluku. lama kelamaan aku jadi seperti berhadapan dengan seorang kenalan yang banyak berinteraksi denganku di tahun 2008. aku ingin kembali berbincang dengannya. meminta maaf dan kembali mendengar ribuan cerita-cerita yang seakan tidak putus-putusnya. kupikir aku akan tetap pada program liburku yang dua bulan ini. aku tidak akan kebosanan dan aku akan menjadi sangat produktif. tapi hingga kini aku merasa: terombang-ambing. aku harus mendisiplinkan diriku dan melangkah mendekati derajat kekerenan ernestito extraordinarie. maksudku, bahkan ibuku merujuknya sebagai si tampan. meski itu tidak ada hubungannya.

sejak aku menyadarinya, aku justru kebingungan dan merasa kehilangan. ketika jantungku tidak lagi melompat saat melihat sang ilusionis kunang-kunang. aku semakin terlatih dalam menyembunyikan perasaanku. begitu terlatih hingga aku kuatir akan sesuatu. jantungku tidak merasakan apa-apa lagi, hatiku seperti sudah koma. ini terlalu aman hingg aku jadi setengah panik. mungkin aku harus bertanya pada ia yang sering mengklaim berhati beku dan bangga akannya.

pernahkah kamu membaca sebuah buku yang seakan-akan berbicara tentang masa lalumu atau seseorang yang penting di masa lalumu? aku merasa ngeri semakin jauh aku membaca buku ini. berkali-kali aku menutup buku ini dan menghela napas. kengerian. ini masa laluku.


19Jul10

sudah seminggu. aku melalui pertarungan itu dan aku merasa sangat lega. kini aku ingin sekali bertemu ernestito extraordinarie dan minum es. dan menghubungi teman-teman lamaku, berbincang melalui telepon. namun teleponku tengah mati dan sengaja kutinggal di tempat tidurku sejak kemarin. aku enggan terlibat lebih dalam dengan beberapa pihak, terutama yang kukenal di kampusku. aku hanya membutuhkan satu sesama pengelana yang tidak akan banyak bertanya. kami akan saling bercerita dan menanggapi tanpa penilaian. kamilah para pelarian dari dunia nilai.

pagi ini aku sedikit terusik dengan orang asing yang terlalu ramah. aku ingin sendirian, dan rasanya tidak nyaman jika ditanya tentang hal-hal pribadi seperti tempatku berkuliah pada pertemuan pertama di bus. aku memalingkan mukaku dan kurasa aku terlalu eksplisit dalam memberi sinyal tidak ingin diajak bicara tadi pagi. akhir-akhir ini aku sering lepas kendali dan cenderung pilih kasih. aku merasa lega karena libur telah jelang. hari-hari mereka yang harus berhadapan dengan ratusan orang tiap harinya mungkin sangat berat. atau mungkin aku saja yang cenderung trustrasi jika terlalu intens berhadapan dengan orang.

sejak seminggu bertarung, aku kehabisan fragmen. tidak banyak yang dapat kubicarakan sekarang. hanya sedikit tanya tentang misteri seonggok kemoceng di jalan tol. dan lagi-lagi percintaan yang absurd. pangeran yang terus berpesan “KEMBALILAH” dalam berbagai bentuk sambil menyelami kebimbangannya. petunjuk-petunjuk baru. dilema yang berlarut-larut. pulpen yang memburuk. meski itu tidak ada hubungannya. aku kehabisan fragmen.


19Jul10

aku tengah membaca sebuah buku yang membuatku seperti menerima banyak surat dari berbagai orang di masa laluku. atau sekedar masuk ke dalam tabung gema. dan ya, aku akan membuat daftar rahasia nama-nama orang-orang yang kukagumi dan kuhindari. mungkin aku akan menuliskan alasan-alasan di balik pencantuman nama mereka. ya, aku mengagumi orang yang sederhana dan rendah hati. dan aku jarang bersimpati pada orang kaya, yang filantropis sekalipun. aku akan menulis nama mereka semua. lalu bertarung dengan tugas-tugas akhir semester hingga kesadaranku habis. amin.

aku ingin memutarbalikkan ritme biologisku lagi di bulan-bulan libur nanti. pagimu adalah malamku, malammu adalah puncak produktivitasku. tidak, aku bukan kupu-kupu… aku cuma seorang (?) terewelu.


19Jul10

belum lama aku diajak ikut serta dalam acara pencuciotakan besar-besaran yang dilaksanakan tiap tahun itu. acara pencuciotakan itu perlu menarik pesertanya melalui penipuan besar-besaran. sebenarnya seluruh acara itu adalah penipuan besar-besaran. mereka akan meneruskan konsep solidaritas dan kekompakan dalam makna yang ambigu. konsep yang telah diputarbalikkan para tetua golongan mereka itu akan diteruskan pada generasi selanjutnya. itu baru dua konsep: masih ada beberapa konsep lagi yang akan mereka putarbalikkan dan teruskan. kritis adalah mencari muka, eksis adalah mengada-ada. kemudian acara pencuciotakan awal itu perlahan akan melahirkan robot-robot prematur baru, parasit-parasit bangsa di masa depan.

aku tidak habis pikir bagaimana aku bisa mendapat ajakan itu. mungkin orang bernomor tidak dikenal ini jarang sekelas denganku dan jarang berinteraksi denganku di kampus, sampai tidak tahu betapa aku paling antipati dengan pejabat-pejabat kecil di kampus itu. bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang oposan, bukan penipu. aku tidak mau ikut serta menipu adik-adik angkatanku. aku lebih memilih menjadi pujangga(gal) yang gemar mengasingkan diri di sebuah kedai kopi.


19Jul10

mungkin ini masa puncak fluktuasi estrogen, hingga perutku terasa sakit dan emosiku menjadi lebih berlebihan dari yang biasanya. aku merasa cukup frustrasi saat aku pulang dan menemukan seluruh penghuni rumah terlelap habis. bahkan kucing pun tidur. mungkin semut, cicak, hingga lipan pun tengah tertidur saat itu. tiba-tiba aku pun teringat bahwa keadaan serupa mengiringi inisiasi depresiku dua tahun yang lalu. ketika tiap kali aku pulang ke rumah yang kukontrak bersama kawan-kawan-kawan lamaku itu, aku menemukan sebagian tengah terlelap setelah seharian bekerja dan sebagian lagi tenggelam dalam layar komputer yang asyik mempermainkan kawanku itu. seharusnya aku tidak merasa kesepian ketika aku tinggal dengan orang lain. namun justru aku merasa baik-baik saja ketika tengah sendiri di antara keramaian yang sunyi.

mungkin aku sebenarnya menyukai kehidupan yang dinamis. dinamika yang kini seringkali mengkerut diredam layar televisi. mungkin tidak hanya suka, melainkan cinta. aku mencintai dinamika, mungkin. saking cintanya, hingga terasa ada yang hilang apabila aku tidak menyaksikannya. seperti kecamuk yang meletar-letar apabila aku lama tidak melihat ernestito extraordinarie. meski aku belum berani menyimpulkan definisi perasaanku terhadapnya.


19Jul10

hari ini aku membongkar lemari bukuku. aku punya banyak sekali buku, sampai aku bingung hendak mulai dari mana. kadang aku berpikir untuk memulai dari buku yang terletak di paling kanan pada rak favoritku. kadang aku berpikir hendak memejamkan mataku, menyayun-ayunkan telunjuk kananku hingga jatuh pada titik di mana buku selanjutnya berada.

lepus skandalus menerima pesan kedua dari pangeran kemarin, sebuah papirus bertuliskan tinta cokelat karamel yang disampaikan seekor burung gagak. lagi-lagi isi pesannya adalah:

“KEMBALILAH.”
- pangeran.

kebimbangan dalam memilih buku yang akan dibaca selanjutnya pastilah jauh lebih sederhana. tentunya jauh lebih sederhana dari memilih apakah hendak kembali berusaha membangun relasi dengan raja lautan yang diam-diam nakalnya menyaingi lepus skandalus itu sendiri. lepus skandalus iri padaku, akunya. tapi aku juga iri padanya yang tidak perlu terjepit tenggat waktu dan dihantui pertarungan akhir semester. kami saling iri tanpa mampu mengambil kesimpulan terkait siapakah yang lebih beruntung. pada akhirnya, kami sepakat untuk iri pada vuvuzela saja.

ya, vuvuzela. benda kontroversial yang popularitasya melejit akhir-akhir ini. ia muncul dalam rancangan yang sederhana dan warna-warni yang ceria seperti permen rubah dan kolaborasi kain perca, sangat sesuai dengan ketertarikan kami jika saja hanya diketahui melalui kata-kata ambigu itu. dan ia mengguncang dunia tanpa tahu apa akibat yang telah diperbuatnya, tanpa khawatir apapun terkait imaji citra ekspektasi apalagi prasangka siapapun yang mengetahui keberadaannya. ia hanya menjalankan tugasnya dan ia mengguncang dunia karena itu. sesederhana itu. dan tugasnya lebih sederhana dari tugas para tentara yang juga mengguncang dunia hanya dengan “menjalankan tugasnya”. vuvuzela ini memang luar biasa, sungguh hakuna matata.

karena itulah kami iri padanya. lepus skandalus merasa terlalu bebas hingga tidak memiliki tugas apapun, padahal ia adalah seorang (?) terewelu masokis yang memandang keterjepitan tugas sebagai petualangan yang menggairahkan. di sisi lain, kamu tentu tahu bahwa tugasku yang sebenarnya bukanlah menyulam merajut apalagi menulis transnota. aku telah meniti suatu jalan menuju cita-cita utopis, meski aku juga telah menetapkan beberapa alternatif yang sebenarnya lebih menggiurkan. kebebasan dan cita-cita, sepasang tragedi pilihan. terlebih lagi, kami sama-sama terperangkap dalam empat lapis penjara berjalan itu: imaji citra ekspektasi prasangka. sialan benar, memang.


pulang

19Jul10

adalah pahit bahwa ketika sebagian orang bersentimentil terhadap rumah di kampung halamannya yang begitu damai, sebagian lainnya tidak lagi memiliki tempat untuk kembali memutar masa lalu yang indah dengan jelas. mungkin rumah mereka di masa kecil adalah rumah sewaan yang kini tidak lagi mampu mereka sewa. mungkin lingkungan penuh kenangan itu kini telah berubah menjadi sebuah bangunan mewah atau lapangan golf yang tidak ada kesannya bagi mereka. atau mungkin tidak pernah ada yang namanya rumah dalam masa kecil mereka. tidak ada orang tua dan saudara yang mengajak bermain dan merekam masa kecil bersama. mereka berserakan di jalanan, di jalanan.

aku adalah salah satu anak yang beruntung memiliki tempat berteduh yang pasti dan uang untuk minum. namun aku juga tidak punya tempat untuk memutar ulang tawa kanak-kanak dan seni hidup tanpa kekhawatiran itu. hampir seluruh peninggalan masa kecilku telah berai ke segala arah dan rumahku kini telah banyak mengalami dekorasi ulang. tempat aku melalui masa balita dan taman kanak-kanak itu kini telah banyak berubah. konon hutan itu bahkan kini sudah tidak ada. modernisasi memang kerap tidak sejalan dengan tendensi sentimental.

bagiku kini “pulang” adalah mengasingkan diri di tengah keramaian, atau sekedar terlelap tanpa batasan waktu. menggali segala celah, berburu udang-udang kecil di antara bebatuan dalam dunia hati. konon hati manusia lebih luas dari alam semesta. apakah waktu untuk menjelajahi dimensi itu juga lebih luas dari kebutuhan waktu untuk menjelajahi semesta? ataukah sebenarnya tidak dibutuhkan variabel waktu untuk itu? bagaimanapun juga aku belum menemukan cara untuk berdiskoneksi dari dunia nyata untuk dapat sepenuhnya masuh ke sana tanpa khawatir berlebihan. bahkan berdisko saja aku belum mengerti dan tidak mau mengerti. tapi itu tidak ada hubungannya.

yang jelas-jelas saja. inilah makna “pulang” bagiku kini.


19Jul10

aku tengah terkepung asap rokok tanpa pilihan lain, dan habis-habisan teruji orang yang baru tertoa vuvuzela atau sekedar bergadang demi piala dunia. tulalit bukan main. aku jadi ingin ke meji dan pulang malam, mengaduk kesialan tanpa dasar ini dengan isak manja. aku tidak ingin berlagak kuat hari ini. sialnya, mungkin ini membutuhkan kerajinan lisan yang standar. padahal kamu tahu keenggananku yang luar biasa pada lisan. aku hanya suka menulis, dan menenggelamkan diriku di dalamnya.

pada akhirnya, lagi-lagi pangeran mengirim pesan:
“KEMBALILAH.”

aku juga ingin mengaduk kebimbangan ini dengan isak manja dan cubitan kecil di lengan kiri pangeran sebagai hukuman.




nomor cantik

  • 399
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.